Wisata Kearifan Lokal sebagai Optimalisasi Produk Jasa Pertanian

1242277620X310Oleh :  Megandini

Setiap manusia di seluruh dunia pasti memiliki kebutuhan akan pangan. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) Tahun 2012 menyarankan agar penyediaan pangan minimal dalam bentuk ketersediaan energi sebesar 2.400 Kkal/kapita/hari, dan ketersedian protein minimal 63 gram/kapita/hari1. Data tersebut menjadikan pangan sebagai isu yang sangat krusial yang harus tersedia setiap saat, baik saat ini maupun masa yang akan datang. Tanggung jawab akan pemenuhan pangan dimasa depan pun tidak dapat dipandang sebelah mata oleh sektor pertanian. Sektor ini merupakan andalah dan satu-satunya sektor yang dapat memproduksi pangan. Hal ini juga diperkuat dengan fokus pembangunan pertanian yang menitik beratkan pada masalah terciptanya ketahanan atau kedaulatan pangan. Sayangnya, keinginan untuk menyandang predikat ketahanan atau kedaulatan pangan nasional belum tentu berimbas pada masalah kesejahteraan petani. Pertanian harus mengemban tugas berat untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga tidak melupakan tugasnya sebagai penggerak roda ekonomi. Di saat yang sama, di masa depan pertanian juga diprekdiksikan memegang tiga kunci penting yaitu pangan, air dan energi. Penyataan yang kembali membuat dilema sektor pertanian karena akan menjadi peluang bisa dapat memanfaatkan, tetapi juga bencana bila salah satunya tidak dapat dipenuhi.

Pada dasarnya bukan hal yang mengherankan bila pertanian ternyata mempunyai tugas yang amat berat. Melalui tanggung jawab yang besar itu pula,  pertanian dapat menjadi sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja sekitar 39 juta orang, yang terbesar dari seluruh sektor perekonomian2. Meskipun mampu menyerap tenega kerja terbesar, namun minat untuk bekerja di sektor pertanian masih rendah. Salah satu alasannya adalah faktor ekonomi. Nilai jual dari hasil pertanian yang tidak menentu menjadi resiko yang banyak dihindari oleh orang dan lebih memilih pekerjaan lain. Padahal, di dalam pengantar ilmu pertanian hasil pertanian tidak hanya satu. Multifungsi pertanian yaitu sebagai produk nyata (tangible and marketable) dan produk jasa (intangible). Itu artinya bila pertanian memiliki fungsi ganda yang keduanya sama-sama menguntungkan.

Saat ini pertanian memang disibukkan dengan masalah pangan, pengembangan energi terbarukan dan usaha konservasi air. Semua masalah yang menjadikan pertanian lupa bahwa ia memiliki fungsi ganda yang dapat dijalankan sekaligus. Bukan berarti untuk menjalankan fungsi ganda tersebut pertanian akan semakin memikul beban berat, tetapi fungsi produk jasa dapat membantu memenuhi tuntutan akan pangan, energi dan air. Fungsi pertanian sebagai produk saja inilah yang sering kali tidak optimal dalam pelaksanaannya. Padahal, produk jasa dapat meringankan pertanian dalam menjalankan perannya. Produk jasa berupa fungsi lingkungan, fungsi ketahanan pangan dan fungsi ekonomi sosial budaya dapat dikemas dalam satu wadah berupa wisata. Pertanian di Indonesia memiliki kelebihan tersendiri berupa kearifan lokalnya. Hal tersebut merupakan potensi pertanian Indonesia yang dapat dikembangkan dan memiliki prospek menjanjikan.

Guna mengoptimalkan multifungsi pertanian khususnya produk jasa, pengelolaan awal dari sistem pertanian harus diperhatikan. Tidak semua daerah di Indonesia memiliki kondisi yang sama. Perrbedaan tersebut sering kali membuat tiap-tiap daerah memiliki kearifan lokal tersendiri. Hal ini harus disadari oleh pemerintah dan tidak boleh memaksakan penggunaan teknologi yang tidak sesuai hanya untuk tuntutan produksi yang lebih banyak. Penggunaan teknologi tidak boleh dipaksakan karena pada dasarnya kearifan lokal sudah merupakan teknologi asli Indonesia. Hanya saja mengelolaannya yang kurang rapi. Banyak kearifan lokal yang bisa dimanfaatkan sebagai agrowisata. Misalnya saja pertanian dengan sistem surjan. Model pertanian ini dapat dijadikan wisata pertanian yang memiliki fungsi produk nyata yaitu sebagai penghasil pangan tetapi juga sebagai produk jasa yaitu sistem pengelolaan drainase. Contoh lain adalah pertanian dengan teknologi kearifan lokal tata ruang. Pertanian dengan teknologi ini sangat kompleks dan sangat memikirkan masa depan. Sebuah desa telah dipetakan menjadi beberapa area yang tidak bisa dicampur adukkan. Area yang telah dipetakan akan difungsikan untuk pemukiman, hutan konservasi, persawahan, hutan kelola dan sumber air. Apabila diteleti, negara maju seperti Singapura juga melakukan hal yang demikian dalam memetakan negaranya. Masih banyak kearifan lokal lain dalam pertanian Indonesia. Semuanya dapat ditawarkan menjadi wisata untuk mengoptimalkan multifungsi pertanian. Menonjolkan produk jasa tanpa mengesampingkan tuntutan utama produk nyata akan memberikan kesan yang menyenangkan dan ketertarikan akan dunia pertanian. Tentu, hal ini penting untuk menanamkan cinta akan pertanian kepada generasi muda dan kepercayaan diri pada semua orang yang bekerja di sektor pertanian.

 

1Kementerian Pertanian, Strategi Induk Pembangunan Pertanian 2015-2045, Kementerian Pertanian, Jakarta, 2014, hlm. 20.

2Kementerian Pertanian, Strategi Induk Pembangunan Pertanian 2015-2045, Kementerian Pertanian, Jakarta, 2014, hlm. 19.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *