Belajar dari Leluhur : Pranata Mangsa

7311447546_2aabcb6f82_zOleh: Wahyu Aziz Nugroho

Jauh sebelum teknologi pertanian diterapkan, nenek moyang bangsa kita sudah menfenal teknik penanggalan dalam bercocok tanam. Teknik ini mengajarkan para petani untuk lebih sensitif terhadap perubahan alam yang terjadi. Alhasil panenan berbagai komoditas yang diusahakan pada masa itu dapat lebih konsisiten dan memberikan hasil yang memuaskan bagi petani. Tak ayal kitab Arjunawiwaha juga mengisahkan bagaimana majunya sektor pangan pada masa itu menjadi salah satu pilar penopang jayanya kerajaan Majapahit. Lantas seperti apa pranata mangsa itu?

Kombinasi Ilmu dan Pengalaman

Pranata mangsa adalah sistem penanggalan yang menjadikan alam sebagai petunjuk tentang apa-apa yang harus petani lakukan dan berikan pada pertanaman. Sistem ini melatih kecermatan dan kepekaan indra petani untuk mengamati, merasakan, dan membaca alam. Untuk memahami pranata mangsa indra harus lihai menanggapi berbagai macam perubahan yang terjadi di alam. Kicau burung, desir angin, maupun cahaya matahari dapat menjadi petunjuk bagi petani Penggunaan sistem penanggalan ini adalah sebuah teknologi yang benar-benar brilian. Kalender pranata mangsa menunjukkan adanya korelasi antara biologi, kosmologi, klimatologi, dan sosiologi masyarakat pedesaan. Secara langsung, teknik ini mengharmonisasikan antara manusia dengan alam, persis seperti dasar konsep ekologi, dimana keberadaan manusia adalah bagian penting dalam sebuah ekosistem yang patut mengerti bagaimana alam, seperti apa kondisi alam, dan apa yang harus dilakukan.

Pranata mangsa mengenal siklus tahunan dalam bertani. Dalam siklus ini terdapat 12 mangsa atau waktu dengan simbol berbeda-beda. Keduabelas mangsa itu diantaranya kasa (bintang sapi gumarah), karo (tagih), katelu (lumbung) dan sebagainya. Nama tiap mangsa sebenarnya dibuat berbeda-beda berdasarkan karakter alam yang terjadi. Watak mangsa kasa misalnya, dengan rentang waktu 22 Juni – 1 Agustus dimana alam mencirikan gugurnya dedaunan, mengeringnya kayu, dan telur serangga menetas maka saatnya bagi petani untuk membakar jerami dan mulai menanam palawija.1 Unik, klasik, antik dan memang begitulah kesan ketika membaca pranata mangsa tetapi keunikan tersebut yang membuat pertanian pada masa lampau sukses pada eranya

Zaman dahulu, dengan hanya modal sistem pranata mangsa, pertanian di Nusantara pernah sangat maju. Sriwijaya dan Majapahit merupakan bukti nyata betapa negeri ini pernah benar-benar berdaulat atas pangan berbasis pangan lokal yang tersedia, berdasar potensi lokal yang ada. Kejayaan itu termaktub dalam kitab Arjunawiwaha dan prasati Kamalagi. Bila kita cermati menggunakan pranata mangsa berarti sistem pertanaman kita akan lebih tertata dan teratur. Kedua, sistem ini mengajarkan kita kapan waktu yang tepat untuk melakukan aktifitas tani dari mulai pengolahan lahan, penanaman, hingga terdengar kicauan burung yang memberi makan anaknya, tanda waktu panen segera tiba. Alam adalah petunjuk dan sahabat petani. Ketiga, banyak sekali kearifan lokal sebagai turunan dari sistem penanggalan pranata mangsa sebagai hasil dari ilmu titen nenek moyang.

Kita Mulai Lupa

Era ini, sistem pranata mangsa mulai dilupakan oleh petani muda. Walau begitu sampai saat ini pemanasan global memang tak dapat dipungkiri menjadi faktor primordial dalam pertanian kita. Pemanasan global merubah kodrat alam menjadi menyimpang, kemarau jadi hujan, musim hujan beralih ke kemarau. Hal ini menjadi salah satu kendala bagi petani untuk menentukan apa yang harus dilakukan dalam budidaya, menyulitkan petani untuk merunut pada pranata mangsa, menyulitkan petani mencermati alam. Kacaunya kondisi alam memang dapat diakali dengan peningkatan intensifikasi melalui berbagai usaha, tetapi lihat kondisi saat ini dimana global warming justru makin diperparah dengan maraknya mekanisasi pertanian sebagai dampak negatif intensifikasi pertanian yang tidak sehat dan non eco-saving. Pencemaran makin marak, bahan kimia makin bertebaran, kondisi air yang makin buruk, yang berakibat fatal terhadap ekosistem. Bukti nyata dapat kita saksikan dilapangan, langkanya beberapa jenis burung di areal persawahan, menurunnya kualitas tanah, hingga cemaran pestisida kimia pada berbagai sayur mayur yang kita konsumsi.

Era modern dan era globalisasi saat ini ternyata menuntut para pelaku tani menjadi berwawasan internasional. Tak terkecuali bibit yang ditanam (yang bahkan Indonesia masih dominan impor), pupuk yang digunakan, bahkan cara tanam pun mulai mengadopsi asing. Petani mulai mengesampingkan indegeneous knowledge. Kearifan lokal dari leluhur yang mana didapatkan dari pengalaman nenek moyang mulai ditinggalkan. Seperti yang diutarakan Robert Chambers bahwa masyarakat kita memiliki keunggulan yaitu kemampuan mempelajari dari pengalaman. Padahal justru dari pengalaman inilah masyarakat kita pada masa lalu mengetahui permasalahan yang kita hadapi sekaligus solusinya. Benih lokal apa yang cocok ditanam di area ini, pupuk apa yang baik untuk tanaman di daerah ini, menggunakan apa pengendalian hama yang berdasar kaidah lingkungan dan sebagainya. Akankah local wisdom itu akan kita campakkan?

Lestarikan Kearifan Lokal

Sejatinya ada beberapa musabab yang menjadikan pranata mangsa mulai ditinggalkan, Era globalisasi yang mendorong masyarakat kita untuk lebih open minded, termasuk petani, sehingga mulai melunturkan budaya ketimuran kita yang cenderung ekspresif dengan mengkiblat pada budaya barat yang cenderung progresif. Globalisasi juga menjadi faktor kunci yang menggerogoti sistem pranata mangsa, sehingga musim kita menjadi agak semrawut. Padahal sejatinya masih terdapat korelasi yang nyata antara gejala alam yang tersebut pada pranata mangsa dengan kondisi saat ini.2 Namun mungkin inilah penyebab dimana pranata mangsa mulai redup dan bahkan dampaknya sektor pertanian dianggap kurang potensial lagi. Berbeda 180° dengan masa lalu dimana bertani memang dianggap sebagai jalan hidup, sumber pokok pencaharian, dan sektor dimana kita bisa mengambil manfaat dengan penyelarasan diri dengan alam berupa hasil tani. Saat ini pertanian dianggap pekerjaan yang tergolong rendah, parameter kemiskinan, dan indikator ketidakberdayaan. Akhirnya, banyak petani yang mulai kehilangan jiwanya sebagai petani. Idealisme tentang marwahnya menjadi petani termasuk idealisme petani sebagai bagian dari alam dan implikasinya yang harus bersahabat dengan alam, seperti yang diajarkan dalam pranata mangsa, bukan justru memerintah alam dalam bertani. Sudah saatnya buku lama itu kita buka kembali, kita gali berbagai macam kearifan lokal dalam sistem budidaya, kita terapkan berbagai macam local wisdom masyarakat desa yang terbungkus apik dalam kesederhanaan dan kesahajaan pranata mangsa. Harapannya adagium kuno “Negara gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja, murah sandang murah pangan” benar-benar akan terwujud di bumi Nusantara.
Daftar Pustaka

Anonim. 2014. Pranata Mangsa dan Perdamaian dengan Tikus. http://www.sinarharapan.co/news/read/140326044/Pranata-Mangsa-dan-Perdamaian-dengan-Tikus diakses 17 Juli 2016

Zaki, Muhammad Khoiru. 2016. Relevansi Penanggalan Pranata Mnagsa Dalam Penentuan Waktu Tanam Padi Sawah. Thesis, Universitas Sebelas Maret

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *