Petani Menagih Janji: Saatnya yang Muda yang Berkarya

Permasalahan yang ada di sektor pertanian banyak dan kadang satu masalah selesai yang lain datang lagi, sama seperti roda yang terus berputar. Permasalahan yang terus membayang-bayangi kehidupan petani dan pertanian justru kadang tidak dirasakan oleh petani itu sendiri, padahal berpuluh-puluh tahun pertanian telah menjadi salah satu sektor penting yang turut menghidupi bangsa ini namun kebijakan yang berpihak pada pelaku pertanian itu sendiri sering dikesampingkan. Malah, permasalahan dan perdebatan itu secara sengaja dilupakan dan dihilangkan dari permukaan tanah air ini. Mulai dari suara-suara besar yang Lanjutkan membaca Petani Menagih Janji: Saatnya yang Muda yang Berkarya

Hari Tani Nasional! Apa Kabar ?

Satu lagi bulan yang harusnya menjadi catatan penting bagi kita semua, masyarakat Indonesia khususnya mahasiswa pertanian Indonesia yang merupakan calon generasi pembangun peradaban baru yang luar biasa. Bulan yang di dalamnya terdapat satu hari yang tak kalah pentingnya untuk kita peringati dan kita rayakan bersama-sama. HARI TANI NASIONAL.

Bukankah sudah menjadi hal yang kurang menarik lagi untuk didengar jika disebutkan bahwa  Indonesia adalah Negara agraris nan subur yang terletak di sepanjang khatulistiwa, atau mungkin disebutkan pula bahwa sebagian besar rakyat Indonesia turun temurun hidup sebagai petani.  Kebanyakan dari kita juga mungkin bosan setiap hari mendengar kabar memprihatinkan bahwa Indonesia yang dikenal sebagai Negara Agraris ini kemudian mengimpor makanan pokoknya dari Negara lain. Sebagian lagi mungkin mulai terganggu dengan pemberitaan bahwa pertanian Indonesia hari ini harus segera di selamatkan. Krisis pangan, impor produk ini, impor produk itu, naik turunnya harga komoditas pertanian yang bisa terjadi kapan saja, harga naik konsumen menjerit harga turun petani tercekik, masa-masa dimana maju sakit mundur pun sakit, alih fungsi lahan, gagal panen, turunnya produktifitas lahan akibat maraknya penggunaan bahan kimia, luas kepemilikan lahan yang semakin lama semakin sempit, pasar bebas dan seterusnya dan seterusnya. Hal-hal semacam itulah yang selama ini kita dengar, bahwa pertanian Indonesia sedang berada dalam masa kritis dan harus diselamatkan.

Dengan merujuk pada beberapa permasalahan sektor pertanian sebagai mana tersebut di atas tentunya kita semua harus semakin berhati-hati, sebab jika masalah tersebut tidak segera di atasi bisa jadi 5 hingga 10 tahun kedepan sektor pertanian di Indonesia tidak akan bisa lagi memenuhi kebutuhan pangan bagi seluruh masyarakat Indonesia sehingga bukan tidak mungkin krisis pangan pun akan bisa saja terjadi. Tanpa adanya perbaikan terhadap sektor pertanian, masalah-masalah itu akan tetap menjadi masalah yang kian hari kian menggerogoti kejayaan keberadaan sektor pertanian di Indonesia.

24 September, bukan hari biasa-biasa saja. Hari itu adalah hari dimana kita harusnya mengingat kembali betapa pentingnya peran sektor pertanian dalam berbagai aspek. Bukan sekedar tentang pemenuhan pangan masyarakat luas saja, namun yang lebih jauh daripada itu adalah bahwa sektor pertanian mempunyai peran strategis dalam pembangunan nasional. Peranan tersebut antara lain: meningkatkan penerimaan devisa negara, penyediaan lapangan kerja, perolehan nilai tambah dan daya saing, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan baku industri dalam negeri serta optimalisasi pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.Hal ini ditunjukkan oleh besarnya kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terutama pada masa kirisis ekonomi yang dialami Indonesia, satu-satunya sektor yang menjadi penyelamat perekonomian Indonesia pada tahun 1997-1998 hanyalah sektor agribisnis, dimana agribisnis memiliki pertumbuhan yang positif.

Mari berefleksi diri sekali lagi, 24 September, merupakan peringatan Hari Tani Nasional. Sejauh mana kita akan menempatkan diri sebagai mahasiswa pertanian ? apa hanya akan sampai pada batas ‘KTM’ saja ? atau kita benar-benar akan mengoptimalkan peran sebagai mahasiswa pertanian sebagaimana mestinya ? ikut membantu memperbaiki sektor pertanian mulai dari bagian terkecilnya ? atau mungkin bersembunyi di balik gelar dan hanya menjadi bagian terkecil dari pertanian ? tentukanlah dimana posisimu.

HARI TANI NASIONAL. Menyimpan harapan yang amat besar untuk kemajuan pertanian Indonesia. Pada tanggal 24 September inilah hari bagi petani Indonesia, karena pada hari ini dibuat satu kebijakan UUPA yang mengatur tentang hak-hak dan kewajiban kaum tani, mengatur hak atas tanah, hak atas sumber-sumber agraria untuk dikelola dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran petani dan bangsa. Penetapan Hari Tani Nasional berdasarkan keputusan Presiden Soekarno tanggal 26 Agustus 1963 No 169/1963 menandakan pentingnya peran dan posisi petani sebagai entitas bangsa.

Selamat Hari Tani Nasional kawan-kawan ! Mari rayakan hari kebesaran kita sebagai seorang petani, sebagai mahasiswanya petani, sebagai orang tani yang tengah sekolah. Mari kita teriakan dengan lantang Selamat Hari Tani Nasional ! Sejahtera Petani Indonesia ! Jaya Pertanian Indonesia.

 

Selamat Hari Tani Nasional!

Catatan Hati Seorang Tani

Oleh : Nurfitriani

 

Bulir-bulir padi itu bukan sepenuhnya milik kita

Luasan tanah di samping rumah adalah milik mereka yang berkuasa

Memang kita yang bekerja, tapi tak mereguk hasilnya

Memang kita yang mengeluarkan tenaga, tapi mereka yang merampok nikmatnya

 

Istri telah merengek menagih uang belanja bulanan

Anak menangis ditagih iuran sekolah dan minta mainan

Mungkin panen akan tiba, namun hasilnya tidak seberapa

Jatah kita masih harus dibagi ke tuan tanah tak sama rata

 

Kau bilang kita ini pahlawan pangan

Kau bilang kita ini penopang kesejahteraan

Tapi kenapa hak kita tak kau perhatikan

Tak ada yang berubah, tetap memprihatinkan

 

Di sekitar pematang, rerumputan enggan untuk bergoyang

Meratapi nasibnya yang malang

Kini tanah semakin gersang

Pupuk kimia semakin meradang

 

Panen menurun, petani manyun

Saat hujan turun, diam tertegun

Hanya doa yang senantiasa terlantun

 

Sumber :

https://adventuspratama.wordpress.com/%E2%80%A2mengapa-pertanian-itu-begitu-penting-di-perekonomian-indonesia/

https://www.spi.or.id/petani-hari-tani-24-september/

http://fitri-hamasah.blogspot.co.id/2014/09/puisi-di-hari-tani.html

Rilis Acara Sekolah Menulis

Oleh : DEMA, KAB, dan PRIMORDIA

Sekolah Menulis atau yang lebih kita kenal SekMen adalah training kepenulisan hasil kerjasama antara tiga lembaga di Fakultas Petanian, yakni DEMA, Primordia, dan KAB. Acara ini diselengarakan pada tanggal 27-28 Agustus 2016 di Gedung A10.301 dan Ruang Seminar KPTU gedung A1 lantai 3. SekMen diselenggarakan dengan tujuan untuk membangun motivasi minat mahasiswa dalam hal tulis menulis dan literasi serta secara langsung mempraktikkannya. Karena kita juga tau bahwa minat baca dan tulis menulis penduduk Indonesia termasuk masih sangat rendah, jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Dilansir dari halaman Republika online, Hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebutkan bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia pada 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara tersebut. Sementara Vietnam justru menempati urutan ke-20 besar.

Sasaran utama acara ini adalah mahasiswa Fakultas Pertanian, namun tetap terbuka untuk umum. Peserta yang mendaftar dan menghadiri acara ini berasal dari beberapa fakultas diantaranya Fakultas Pertanian, Kehutanan, Teknologi Pertanian, dan Biologi. Pembicara yang mengisi acara ini adalah Bapak Subejo SP., M.Sc., Ph.D yang merupakan dosen Fakultas Pertanian, Ananda Badudu seorang jurnalis lepas, Karina Inassyiva Rosmala Mahasiswa Berprestasi Fakultas Pertanian, dan Yongki Sutuyo alumnus Sekolah Vokasi UGM.

Materi yang dipaparkan oleh pembicara masing-masing adalah motivasi tentang manfaat menulis, dan beasiswa apa aja yang bisa didapatkan melalui menulis yang dipaparkan oleh Karina Inassyiva R. Selanjutnya Yongki Sutoyo yang memaparkan materi mengenai pentingnya membaca buku agar semakin memperkaya bahan materi tulisan dan literasi-literasinya. Bapak Subejo memberikan materi mengenai essay yang populis untuk media massa dan tips serta trik agar essay yang di buat bisa diterima di media massa tersebut. Serta Ananda Badudu memberikan materi mengenai cara menulis essay yang benar dan juga mendampingi mahasiswa secara langsung dalam praktik menulis essay. Pemaparan materi yang menarik dari para pembicara membuat para peserta antusian mengikuti acara ini. Harapan yang ingin didapatkan adalah mereka termotivasi untuk mulai menulis dan tidak menyerah begitu saja ketika mengalami kegagalan.

Di akhir acara Sekolah Menulis ini para peserta diminta untuk membuat essay. Essay yang telah dibuat selanjutnya akan dipublikasikan melalui Official Account Line ke tiga lembaga yang menyelenggarakan acara ini. Hal ini sebagai bentuk apresiasi atas karya tulis mereka. Pempublikasian ini diharapkan mampu memunculkan rasa bangga dan semangat untuk menulis. Selain itu penghargaan lain yang diberikan kepada mereka yang telah membuat dan mengirimkan essay yaitu sertifikat. Follow up dari kegiatan ini adalah salah satunya adalah pemantauan produktivitas mahasiswa dalam hal kepenulisan melalui grup Sekolah Menulis maupun personal message jika diperlukan.147299829050414729982944601473000739075

#GaSPOL, Langkah Kecil Perwujudan Merdeka Pangan

“Pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa; apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi maka “malapetaka”; oleh karena itu perlu usaha secara besar-besaran, radikal, dan revolusioner”

(Ir. Soekarno)

Persoalan pangan selalu menjadi pembahasan penting namun sering terabaikan. Kondisi pangan dunia, termasuk di Indonesia selalu mengalami pergejolakan yang berdampak pada banyak sektor. Lanjutkan membaca #GaSPOL, Langkah Kecil Perwujudan Merdeka Pangan

Wisata Kearifan Lokal sebagai Optimalisasi Produk Jasa Pertanian

1242277620X310Oleh :  Megandini

Setiap manusia di seluruh dunia pasti memiliki kebutuhan akan pangan. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) Tahun 2012 menyarankan agar penyediaan pangan minimal dalam bentuk ketersediaan energi sebesar 2.400 Kkal/kapita/hari, dan ketersedian protein minimal 63 gram/kapita/hari1. Data tersebut Lanjutkan membaca Wisata Kearifan Lokal sebagai Optimalisasi Produk Jasa Pertanian

Belajar dari Leluhur : Pranata Mangsa

7311447546_2aabcb6f82_zOleh: Wahyu Aziz Nugroho

Jauh sebelum teknologi pertanian diterapkan, nenek moyang bangsa kita sudah menfenal teknik penanggalan dalam bercocok tanam. Teknik ini mengajarkan para petani untuk lebih sensitif terhadap perubahan alam yang terjadi. Alhasil panenan berbagai komoditas yang diusahakan pada masa itu dapat lebih konsisiten dan memberikan hasil yang memuaskan bagi petani. Lanjutkan membaca Belajar dari Leluhur : Pranata Mangsa

Notulensi Diskusi Lewat Handphone (DILAHAN)

reformaso

Reformasi Subsidi Pupuk

Oleh : DEMA Faperta UGM dan BPW III ISMPI

Minggu 3 Juli 2016, tepatnya pukul 15.30 WIB dilakukanlah diskusi lewat handphone (DILAHAN) program yang diagendakan oleh DEMA Faperta UGM dan BPW III ISMPI dengan tema Reformasi Subsidi Pupuk. Diskusi kali ini memiliki bentuk dan tampilan yang berbeda, yakni dikemas secara online melalui media sosial whatsapp. Narasumber DILAHAN adalah Adhitya Herwin Dwiputra, S. P. (Presiden Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Gadjah Mada 2014 sekaligus founder Aku Petani Indonesia) serta Lanjutkan membaca Notulensi Diskusi Lewat Handphone (DILAHAN)

Ekspor Impor di Tangan Siapa?

Backup_of_diskusi publikOleh: Dema Fakultas Pertanian UGM

Pada hari Kamis, 26 Mei 2016 kami mahasiswa yang tergabung di Kedirjenan Kajian Strategis Dewan Mahasiswa Fakultas Pertanian mengadakan Diskusi Publik dengan judul “Ekspor Impor di Tangan Siapa?” di Auditorium Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian UGM. Acara ini berlangsung dari pukul 14.00-16.00 WIB dengan dihadiri oleh 32 peserta dari Fakultas Pertanian UGM dan Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Lanjutkan membaca Ekspor Impor di Tangan Siapa?