untitled

Petani Menagih Janji: Saatnya yang Muda yang Berkarya

Permasalahan yang ada di sektor pertanian banyak dan kadang satu masalah selesai yang lain datang lagi, sama seperti roda yang terus berputar. Permasalahan yang terus membayang-bayangi kehidupan petani dan pertanian justru kadang tidak dirasakan oleh petani itu sendiri, padahal berpuluh-puluh tahun pertanian telah menjadi salah satu sektor penting yang turut menghidupi bangsa ini namun kebijakan yang berpihak pada pelaku pertanian itu sendiri sering dikesampingkan. Malah, permasalahan dan perdebatan itu secara sengaja dilupakan dan dihilangkan dari permukaan tanah air ini. Mulai dari suara-suara besar yang meneriakkan permasalahan yang ada sampai suara kecil yang semuanya ditumbangkan sacara terorganisir. Janji-janji para penguasa yang dilantamkan keseluruh bagian tanah air untuk mengatasi segala permasalahan yang ada di sektor pertanian tak kunjung pula mendapatkan hasil yang setimpal, bahkan malah hanya menguntungkan satu pihak saja. Para petani, masyarakat asli sektor pertanian sampai saat ini masih dianggap kelas bawah yang bekerja untuk memakmurkan orang-orang atas baik disegala sektor. Janji manis yang diberikan kepada para petani dan terus berlanjut sampai sekarang yang tidak tau-menahu akan terealisasi atau tidak. Harapan para petani yang selalu digantung dan tak kunjung datang. Sehingga bisa saja hidup petani menjadi sangat nelangsa beberapa tahun kedepan jika tidak ada intelektual yang membersamai dan mendukungnya.

Pada hari Sabtu (10/9) DEMA Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada melakukan sebuah pagelaran seni yang bertajuk Panggung Raktyat Pertanian (PRPN): “Petani Menagih Janji”. Pertunjukan yang mengangkat kehidupan para petani degan sedikit bumbu drama ini berjalan dengan sukses dan dihadiri oleh banyak orang baik dari mahasiswa, jajaran dosen, karyawan, maupun masyarakat umum. Pertama, acara ini diisi oleh sebuah pertunjukkan theater yang berjudul “Nelangsa”. Theater ini bercerita tentang nasib para petani beras yang dipermainkan dan digantung nasibnya oleh pihak pemerintah dan swasta yang hanya memikirkan soal keuntungan dan kemakmuran sepihak. Sebuah cerita yang diambil berdasarkan kisah nyata para petani dalam permasalahannya dan hubungannya kepada pemerintah dan pihak lain seperti tengkulak. Perwatakan para lakon yang ekspresif memancing perasaan penonton, mulai dari sedih, mencekang, marah, dan juga tertawa.

Puncak dan pengakhiran acara ini diisi oleh penampilan dari Kiai Kanjeng dan dialog yang dipimpin oleh Muhammad Ainun Nadjib atau yang biasa dipanggil Cak Nun, seorang tokoh masyarakat, seniman, dan tokoh intelektual islam. Dialog Cak Nun ditemani oleh beberapa dosen yakni Prof. Dr. Ir. Achmadi Priyatmojo, M. Sc., dan  Dr. Ir. Sri Nuryani Hidayah Utami, M. P., M. Sc., Muhammad Ridho pimpinan produksi theater Nelangsa, Dimas Tri Asmara Sekjend DEMA Pertanian UGM, serta dua pemain teater yaitu Asep dan Febi.

Awal dialog dibuka oleh Cak Nun yang mengomentari pementasan teater Nelangsa, yang kemudian dilanjutkan dialog tentang isu pertanian bersama pembicara-pembicara yang dipanggil maju kedepan. Pembahasan pertama ialah pemaparan keadaan nyata pertanian Indonesia di lapangan sekarang ini, yang mana masalah petani meliputi faktor alamnya yang kadang memicu ledakan hama dan penyakit sehingga terjadi kegagalan panen, bencana alam, turunnya harga komoditas ketika musim panen tiba, penggusuran lahan, birokrasi dalam mengurus bantuan yang susah, serta hubungannya dengan para tengkulak yang membuat nasib mereka kadang tak menentu.

Cak Nun menarik benang bahwa masalah pertanian itu sebenarnya masalah dari kebijakan yang sifatnya komprehensif, baik itu pemerintah dan para pemilik modal. Sejak zaman orba sampai reformasi, posisi petani menduduki tempat yang semakin lama semakin menurun, yang mana pada awal orba pekerjaan sebagai petani adalah primadona sementara itu semakin maju dan berkembangnya teknologi, pekerjaan petani semakin ditinggalkan, sehingga saat ini yang tersisa hanya petani-petani tua dengan usia 40 tahun ke atas. Inti penyelesaian dari permasalahan pertanian adalah kebijakan yang memihak petani, serta apa yang akan dilakukan generasi muda sekarang untuk membantu menyelesaikan masalah petani.

Ya generasi muda. Generasi yang menjadi harapan para petani sekarang untuk turut memperjuangkan kesejahteraannya. Generasi yang diminta untuk mampu melakukan inovasi-inovasi pertanian dan mau turun di lahan. Tidak hanya sekedar omongan dan teori belaka, namun mau terjun ke masyarakat petani, membaur dengan semuanya, mencari masalah yang menjadi momok di masyarakat serta hadir sebagai problem solver. Ya memang tidak mudah untuk menjadi sosok yang demikian, perlu niat dan keteguhan hati yang sangat kuat untuk tetap bertahan pada jalan tersebut. Namun sudah menjadi eranya sekarang, bahwa untuk menjadi problem solver dilakukan dengan terjun langsung ke lahannya. Petani membutuhkan penggerak yang berpengetahuan dan dengan niatan tulus mau mengabdi untuk memperbaiki pertanian kita ini.

Dialog asyik tentang pertanian bersama Cak Nun yang berjalan cukup panjang sekitar 2 jam 30 menit ini ingin mengatakan keseluruh bagian tanah air tentang bagaimana permasalahan dan nasib para petani yang sering kita diacuhkan. Para pemuda lah yang bertangung jawab akan masa depan pertanian negeri ini, menjadi petani dengan bekal ilmu sosial, hukum, politik adalah keharusan karena petani kita sudah renta dan butuh regenerasi. Dialog ditutup dengan saran serta doa dan harapan dari perwakilan elemen profesi terhadap nasib para petani, terhadap nasib pertanian Indonesia. Tidak ada pendapat yang salah, saran yang salah untuk pertanian yang lebih maju. Layaknya para lakon disebuah pertunjukkan theater, bebas mengekspresikan nasib dan kesengsaraan para petani yang juga ikut dirasakan mereka, sebuah pertunjukkan yang akan membuka mata semua orang tehadap pertanian Indonesia, terhadap nasib para petani dan masyarakatnya, terhadap negaranya.

Nasib bangsa kedepan ada ditangan pemuda sekarang, nasib pertanian kedepan ada ditangan pemuda tani yang tanpa lelah berjuang. Jangan hanya bisa menuntut dan menyumbang angan, sudah saatnya kita turun tangan. Bangkitlah pemuda, ayo belajar, ayo bertani !

 

Panggung Rakyat Pertanian 2016

Direktorat Jenderal Kajian Strategis

DEMA Faperta UGM

Kabinet Lesung Padi

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *